Tentang Sebuah Rasa
Kau selalu mengajarkanku untuk tidak menyalahkan siapapun atas peristiwa-peristiwa pahit yang terjadi dalam hidupku. Dan aku selalu paham atas apa yang kau ajarkan. Berkat kau, selama ini aku selalu menelan potongan pahit kehidupan secara utuh. Tidak pernah membaginya pada orang lain, termasuk hanya sekedar menjadi mereka pendengarku. Ralat, kalimat terakhir ini bukan bagian dari apa yang kau ajarkan. Aku tau kau tak pernah mengajarkanku untuk menjadi seseorang yang selalu memendam semuanya sendirian. Hanya saja, seperti yang kau ketahui dan yang sudah kau pahami, aku bukanlah seseorang yang bisa dengan mudah untuk percaya pada orang lain. Aku jugak bukan seseorang yang bisa berkeluh kesah dengan seseorang yang memahamiku secara utuh seperti dirimu. Iya, seperti dirimu.
Entahlah, aku tidak tau mengapa harus menulis potongan sosok dirimu lagi disini. sungguh ini bukan tentang puing puing rindu untukmu yang masih berserakan di hatiku, namun ini hanya tentang sebuah rasa kecil bernama "Sedih" yang harus ku tekan dalam-dalam ketika menyadari aku tidak sekuat apa yang dulu pernah kau pikirkan. Aku tidak sempurna memahami dan menerapkan apa yang kau ajarkan. Kau tau? Ada bagian kecil yang sulit kulakukan ketika menerapkan apa yang kau ajarkan. Sebuah penerimaan lapang dari hati. Aku masih ingat caramu menyampaikan hal kecil namun amat penting itu padaku, dulu. Bahkan aku masih mengingat jelas sebaris kalimat yang kau sampaikan saat itu melalui Line. "Sepahit apapun kejadian yang menimpa kita, kita harus tetap bahagia, KEEP MOVING FORWARD" begitu katamu, dulu. Kau berhasil membuat hatiku menerima semuanya dengan lapang bersama rasa bahagia yang tak bisa ku jelaskan. Tapi lagi-lagi, itu dulu. Dimasa lalu.
Dan kini, aku bahkan tak bisa menyembunyikan sedihku ketika menelan semua itu. Kau tau mengapa? Karna kini tak ada lagi alasan untukku tersenyum ditengah rasa pahit yang terasa menyesakkan.
Rantauprapat, 11 Maret 2016
-R-
ini gue lagi baca, tiba-tiba ada musiknya, kaget. Lagu korea pula. Malah gagal konsen antara dengerin lagu atau baca. Mending pake musik akustik yang versi instrument aja mbak, biar lebih asoy.
BalasHapusTentang sebuah rasa, gue komen apaan ya. Gak ada. Ini bagus. Mungkin mbak nya lagi di titik paling galau yah? Sok tau dah. Semoga cepat menemukan alasan kenapa harus tersenyum walaupun terlalu pahit.
Makasi ya Uben atas komentarnya,,, lagunya suadah saya ganti sesuai saran kamu,,, tapi masih tetap lagu korea...
Hapus