SEPOTONG KENANGAN
Hey Naz... apa kabar? Nuna harap kamu baik-baik aja... Nuna kangen tau samamu, kangen banget.. kamu kangen gak sama nuna? Enggak kali, ya? kalo kamu kangen pasti kamu lihat nuna, kamu mau dengerin nuna dan kita pasti kayak dulu lagi...
Naz, nuna nulis surat ini karena nuna nggak tau lagi harus gimana menghapus kangen ini. nuna nggak tau lagi caranya supaya kamu bisa lihat nuna, dengerin nuna. Dan nuna nggak tau lagi naz, gimana ngobatin luka di hati ini selain inget kebersamaan kita dulu...
Saat pena nuna jingkrak-jingkrak di lembaran hvs ini, kamu tau? hati dan memori nuna ikut jingkrak-jingkrak kalo ingat tentang kita dulu... mereka seneng banget tau naz, kalo ingat tentang kamu. Dan dengan lincah memori nuna menampilkan rekaman kebersamaan kita... kamu slalu menyapa di line, kamu ikutan nonton yang nuna tonton, dengerin lagu yang nuna dengerin, kangen saat kita sholat bareng dimesjid. trus saat ngobrol bedua dikampus, kangen saat melihat tampang lucu kamu nanyak "kemana kita?", saat duduk berdua dan menghitung orang2 sudah berapa generasi pergi meninggalkan kita dan kita tetap ngobrol ketawa ketiwi bareng, saat kamu main gitar dan nyanyiin lagu bogoshipo lagu favorit nuna... saat makan apel fuji hadiah ultah dari kamu, saat berselisih dijalan tapi cuek-cuekkan, saat nuna ngutakatik hape kamu,,, saat kamu baca isi binder nuna, saat kita kehujanan pas pulang nonton konser, saat kita makan durian bedua, dan saat ngabisin waktu malam minggu.. Nuna ingat jelas moment itu, Naz...
Kamu tau gak, nuna senyum-senyum sendiri lho nulis surat ini meski air mata ini tetap jatuh... nuna juga masih ingat tampang kamu yang sumpah lucu banget saat kamu mintak pulang waktu kita duduk beduaan,,, dan nuna juga ingat saat kamu batalin janji makan durian,, dan kamu miskol sampek 20x tapi sengaja gak nuna angkat.. kerna nuna pikir jarang2 kamu mau nelpon, kamu kan anti banget nelpon nuna, kamu masih ingatkan? Dan detik itu juga nuna marah sama kamu, muak liat kamu karena kamu udah kelewatan. Tapi kamu sama sekali nggak sadar akan kesalahan kamu, kamu nggak tau nuna marah dan saat itu nuna milih untuk diemin kamu, berharap kamu bakalan minta maaf selama 2hari berturut2. Tapi ternyata kamu malah nyerang nuna balik, kamu diemin nuna dan saat itu nuna meredam ego mencoba mengalah, nuna buka mulut dan bicara baik-baik sama kamu. Dan entahlah, tiba-tiba memori nuna korslet mengingat kejadian itu, mungkin terlalu sakit buat diingat... yang jelas saat itu kita baikan lagi dan kamu tau? nggak tau kenapa nuna bahagia saat itu, bahagia banget... Sejak itu, kita semakin dekat.
Namun seiring bergeraknya jarum jam tiba-tiba hari itu datang, hari dimana nuna kehilangan kamu. Meski berat, nuna tetap ingat kejadian 8 bulan yang lalu. Saat kamu membutuhkan hape kamu yang lagi nuna pinjem padahal kamu gak sukak hape kamu di pinjem. Maafin Nuna. nuna nggak nyangka bahkan nggak pernah terlintas dipikiran nuna, kalo kamu bakalan semarah ini, menyiksa nuna dengan sikap kamu yang berubah drastis. kamu berubah jadi dingin sama nuna Naz, kamu bersikap seolah nggak ngenal nuna. Sakit banget, Naz. Jujur, kalo bisa milih, nuna akan milih kamu marah-marah, daripada kamu diem kayak gini, bersikap seolah nggak kenal nuna. Sakit, Naz.
Nuna tau nuna salah, salah karena nggak tepatin janji nuna untuk ngebalikin hape secepatnya. dan nuna juga tau, kamu paling nggak suka sama orang yang ngerampas gelang itu kan, tapi kamu nggak tau Naz, gimana rasa bersalah ini membunuh nuna, mendorong nuna untuk hanyut dalam lautan air mata.
kamu nggak tau seberapa besar usaha nuna buat penuhin janji itu. Dan kamu juga nggak tau rasa sakit yang bersemayam disaat kamu deket sama cewek lain, saat kamu berpaling dari nuna dan saat nuna kehilangan kamu...
Nuna tau, nuna bukan siapa-siapa kamu. Bahkan nuna pun nggak tau kamu anggap nuna apa. Apa teman sahabat atau cuma mainan kamu aja? Entahlah. Tapi bisakah sedikit kamu mengingat tentang nuna? memberi ruang di hati kamu untuk kebersamaan kita? Melihat sedikit kesalahan yang pernah kamu buat ke nuna? dan mengingat sejenak tentang KITA?
Sungguh, nuna nggak tau lagi harus gimana untuk ngobatin luka ini, selain menumpahkan semuanya di surat ini, berharap kamu bisa mengerti dan memahami. Sedikittttt saja..
Nuna kangen kenangan kita Naz, kangen banget... kalo ingat waktu kamu jauhin nuna, memandang nuna dengan tatapan benci, dan nuna melihat di sosmed kamu chatingan dengan cewek lain, itu semua sukses bikin nuna ancur, Naz... hmm.. apa kamu tau? Pertanyaan bodoh! Tentu kamu nggak tahu apalagi ingin tahu. Nuna cuma berharap suatu saat nanti kita bisa sama-sama lagi untuk menciptakan tawa yang mengundang sejuta kebahagiaan...
Naz, sekali lagi, nuna ingin kamu tahu nuna kehilangan orang yang bikin nuna bahagia, orang yang selalu bikin nuna jengkel, orang yang bikin hidup nuna berwarna, dan orang yang berhasil bikin nuna sedih...
Salam sejuta kangen
NUNA
Seketika pena digenggamanku terlepas seiring air mataku yang semakin mengalir deras. Kututup wajahku yang dibanjiri air mata dengan kedua telapak tangan sambil menangis sesenggukan. Sakit sekali Tuhan. Tanpa sadar memoriku memutar rekaman saat kali pertama dan untuk seterusnya Naz mengacuhkan diriku, bersikap seolah tak mengenalku.
Aku masih mengingatnya. Saat-saat itu, saat dimana Naz menjauhiku. Jantungku pun mendadak berdebar cepat ketika melihat sosok itu. Naz. Ketika itu, tatapan kami bertabrakan. Lagi-lagi aku melihat setitik ketidaksukaannya padaku dari sorot matanya. Bibir merah itu pun datar, tanpa sedikit pun senyuman. Dia bukanlah Naz yang kukenal. Dia bukanlah sosok pencuri hatiku. Dia berbeda. Jika dia Naz, Naz pasti kini dia tersenyum dengan manisnya. Tapi kini tidak. Dia hanya diam seperti patung dan tiga detik kemudian langsung berpaling dengan pandangan datar.
Tanpa sadar, kakiku melangkah menghampirinya atas kehendak jiwaku. Aku tau, jiwa ini tak tahan melihat kehancuran hatiku. Bagaimana pun hati dan jiwa adalah satu meskipun soal cinta mereka selalu berlawanan. Hanya lima langkah dan kini aku sudah berada tepat di sampingnya. Sepasang mata tajamnya menatap lurus ke pintu dan berpura-pura tidak tau aku disini. Di sampingnya.
“Hai Naz,” sapaku dengan nada ceria, seperti biasanya. Meski kali ini terdengar sedikit sumbang.
Aku melihatnya mendecakkan lidah kemudian dia tetap fokus dengan komputer didepannya. Aku memandang punggung itu dengan mata memanas. Ya Tuhan.. kenapa semuanya jadi begini? Kenapa Naz begitu marah? Kenapa dia bersikap seolah tak mengenalku?
Saat itu, aku menunduk menatap ujung sepatuku. Kurasakan air mataku siap tumpah. Aku menggigit bibir bawahku keras-keras dan berusaha mengontrol emosi. Nggak…nggak di sini…bukan sekarang.. Air mata ini nggak boleh tumpah. Karena bagaimana pun, di sini aku yang salah dan aku bukanlah siapa-siapa untuknya.
Air mataku tiba-tiba semakin mengucur deras melihat cuplikan hari-hari kemarin. Hari dimana aku menghampirinya, berharap dia akan tertawa sumringah padaku dan berharap kami bisa seperti dulu. Tapi tidak. Harapan itu mustahil untukku bila melihat sikap Naz yang sebenarnya.
Setelah beberapa saat merasa sedikit tenang, kucoba mengusap air mataku kemudian meraih tulisan yang mewakili isi hatiku. Kulipat lembaran itu hingga bisa masuk dalam sebuah amplop bernuansa hijau muda. Aku tersenyum pahit menatap surat itu. Cukup. Naz tidak akan mau membaca surat ini, tak akan pernah. Aku pun akhirnya memutuskan menyelipkan amplop itu di rak buku, mengurung niat untuk memberikannya pada Naz. Jujur, aku tidak sanggup lagi melihat sikapnya yang benar-benar membuatku mati rasa.
Setelah itu kucoba untuk refreshing berniat menghilangkan kesedihan di jiwa. Ku aktifkan hape merahku kemudian langsung masuk ke jejaring sosial. line dan facebook.
Tiba-tiba hatiku mendorong jiwa untuk melihat kumpulan pesan di line. Aku tau maksud hati ini, dia ingin melihat obrolanku dengan Naz, lelaki yang sangat dipujanya. Kuakui, kadang sulit mengendalikan hati ketika virus merah jambu melanda. Aku menghela nafas, lagi dan lagi hati ini menangis ketika melihat sederet chattinganku dengan Naz dulu.
Naz
Nuna udah nyampek Rumah?
Nuna
Udah... kamu?
Naz
belum, masih dikampus..
Nuna
ohh.. ngapaen
Naz
Kombur
Nuna
oh..
oiya naz besok liat pasar malam yok
Naz
malesssss
Nuna
wiii yang parahaaaannn
Naz
marahlah
Nuna
biar apa marah
Naz
biar naz cium
Nuna
bener la, hehe
Naz
Apa bener
Nuna
Di cium, hehe
Naz
Hehe
Nuna
widaaaaa naz
Naz
wiidaaaaa nuna
Nuna
enak la nanaz
Naz
enak apa
Nuna
ada gilak gilak nanaz, hehe
Naz
mau rupanya nuna ama orang gilak
Nuna
hehe becanda lohhh
Naz
nuna
Naz
tidurlah
Nuna
nantilah
Naz
ngambek ni
Nuna
iya la
Naz
cie cie ngambek dia
Aku tertawa kecil diringi butiran kristal yang kembali menyeruak dari pelupuk mata. Ya Tuhan.. kenapa sih hati ini cengeng banget? Batinku sambil mengusap tetesan air mata. aku beralih membuka fesbuk, Kedua bola mataku yang berair melihat bulatan hijau seketika muncul tepat di samping sebaris nama Nanaz. Naz Online!
Hatiku langsung melonjak-lonjak kegirangan. Ya, ini kesempatanku untuk bicara padanya. Selama tembok permusuhan itu dibangun, tentu kami tak pernah lagi saling chatting bahkan nomor handphone ku pun mungkin dihapus olehnya. Untung saja Naz tidak menghapus pertemanan di antara kami, meski hanya di jejaring sosial. Aku menarik nafas panjang dan perlahan sampai akhirnya memberanikan diri untuk mengirim pesan padanya.
Nuna
Hai Naz :D
Setelah beberapa menit menunggu, namun tak ada balasan darinya. Sudah kuduga, pasti dikacangin lagi. Meski begitu, hatiku tetap saja mengobarkan semangat yang menggebu mendorongku untuk mengirim pesan lagi.
Nuna
Nazzzzzzzzz maafin nuna :( janganlah dikacangin aaaa
Tiba-tiba Naz membalas pesanku! Ya Tuhan! Hatiku bergetar kencang diikuti jantungku yang berdebar tak karuan. Kucoba tarik nafas mencoba bersikap santai. Pelan-pelan, kubuka pesan darinya dengan perasaan tak menentu.
Naz
-_-
Senyum kecil seketika merekah dibibirku. Tak apa, meski hanya emotion itu yang ia kirimkan, tapi cukup memberi kegembiraan tersendiri di hatiku. Setidaknya dia mau membalas pesan dariku.
Nuna
Janganlaah diem gini. Bilang dong nuna harus gimana T.T...
Sekali lagi, tak ada balasan darinya. Aku kembali mengusap tetesan bening yang mengaliri di kedua pipiku. Kucoba untuk kembali mengirim pesan padanya.
Nuna
Naz gaanteeng, Naz pinter naz yang Baik hatinya, maafin Nuna ya, ya, ya??
*no no kacang
Lagi-lagi tak ada balasan darinya, padahal bulatan hijau masih menempel disisi kanan namanya.
Nuna
plisssss say something???
Seketika bulatan hijau itu menghilang, menandakan bila dia memutuskan untuk pergi. Aku terpaku bersamaan dengan membekunya hatiku. Kurasakan hatiku terdiam tak mampu bergetar lagi. Luka itu semakin dalam menggali air mataku untuk terus keluar. Mengapa harus begini? Aku hanya ingin minta maaf. Apa itu terlalu berlebihan? Apa keinginanku terlalu tinggi? Atau memang aku tidak pantas mendapat maaf? Aku menggigit bibir bawahku. Genap sudah kehancuran ini. kehancuran yang benar-benar total.
Tak ada lagi kata maaf, tak ada lagi senyuman dan tak ada aku diingatannya. Cukup. Seharusnya aku yang mengerti dan memahami. Aku yang salah dan aku yang membangun sendiri tembok di antara kami. Dia sudah melupakanku. Dia membenciku. Dan tak seharusnya aku mengharapkannya lagi, memaksanya untuk melihatku. Dan detik ini, saatnya aku untuk pergi dari kehidupannya.
***
Ahjuummmmaaaaaa eh maksud aku Nuna (nuna jangan naik tensi dulu ya 😊) Nuna, sebenarnya aku malas nulis-nulis surat kayak gini, capek tau gak. Tapi karena nggak tau gimana sampein semuanya ke nuna, terpaksa deh aku nulis surat buat nuna. Nuna, mungkin saat nuna baca surat ini aku udah nggak bisa bareng nuna lagi.. Maafin aku ya, udah nyakitin nuna sejauh ini. Kesalahan nuna yang minjem hape dan ngerampas gelang itu sebenarnya cuma alasan aku doang, untuk bisa jauh dari nuna. Supaya ada alasan buat aku pergi dari nuna. Aku pergi, karena aku tau kita pasti bakalan pisah, nggak mungkin sama-sama lagi.
Aku cuma pengen nuna nantinya terbiasa tanpa aku, aku pengen nuna nggak terlalu sakit nantinya dan aku pengen nuna bisa pasang senyum saat tau kalo nanti aku memiliki kekasih hati yang ku cintai untuk selamanya.
Jujur Ahjumma, eh maksud aku Nuna hehe.. selama 8 bulan aku menjauh dari nuna, aku kaasihannnn bangeeeet nget nget sama nuna. Suer! Aku kasihan banget ngebaca status fb nuna yang galau... nuna tau gak? setiap hari jari-jari aku ini gatal-gatal pengen chatingan sama nuna. aku juga kangen saat2 ketawa bareng nuna tapi ya gimana lagi, aku harus bisa tahan hati aku demi kebaikan kita. nuna nggak tau kan, gimana aku harus kuatin ini hati saat liat tampang sedih nuna itu? saat liat pipi gendut nuna basah karena aku? sakit tau, nuna.
nuna juga nggak tau, gimana usaha aku buat pasang tampang kejam+dingin ke nuna, susaaah banget! Tapi lagi-lagi demi kebaikan kita, aku berusaha untuk bisa, berpura-pura nggak kenal nuna, berpura-pura untuk benci nuna, padahal sebenarnya aku kasihan sama nuna, kasihan banget. Oya, sebenarnya juga (haduh kayaknya banyak banget ya, yang aku umpetin dari nuna. hmm sebenarnya aku pengen ungkapin perasaan ini ke nuna dari dulu. Tapi aku rasa, lebih enakan kita kayak gini aja, aku takut kalo kita terus dekat, nanti nuna makin gak bisa lepasin aku karena kalo status kita udah pacaran pasti bakalan Jaim deh haha, trus pasti nuna juga suka ngambekan? aku juga nggak bakalan bisa genit lagi sama cewek lain hahaha. Lagian menurut aku nggak ada cowok yang tertarik tuh sama nuna, selain aku. haha jadinya, aku nggak perlu takut kalo nuna dicuri orang.
Tapi nuna, setelah aku agak semakin sibuk dengan urusan masa depanku. aku jadi pengen ada cowok yang bisa gantiin posisi aku untuk nuna. Aku pengen lihat nuna bahagia meskipun itu bukan karena aku. Jadi aku mohon jangan nangis lagi, ya? Nanti pipi gendut nuna itu kempes lagi gara-gara air mata itu. Udah cukup 8 bulan itu aku buat nuna sakit, dan sekarang jangan sakit lagi, ya? Jangan nangis lagi. Oke, sayang? (cieeeee pasti langsung melayang tuh aku bilang sayang hahaha)
Nuna, maaf ya karena aku nggak balas chattingan terakhir kita beberapa bulan lalu. Jujur, aku ngakak tau baca pesan dari nuna. nuna bilang aku ganteng pinter baik haha, sumpah saat itu pengen banget rasanya cubit pipi nuna biar nuna bisa diem. Tapi dibalik tawa aku saat itu, ada keselip luka Nuna, saat liat emotion nangis nuna. nuna nangis lagi, ya? Maafin aku lagi ya. nuna tau saat online itu aku lagi di rumah dan aku putusin offline karena mendadak ada urusan penting banget. Maafin, ya?
Nuna, makasih ya buat semuanya. Makasih buat hari-hari indah itu. Makasih udah izinin aku masuk dalam hidup nuna. Maafin aku, ya udah ninggalin nuna, nuna pasti tau aku sama sekali nggak mau ini terjadi. Tapi ya mau gimana lagi, takdir yang memaksa.
Nuna, aku boleh minta satu hal gak? Jangan pernah memikirkan aku di hati nuna, ya? dan anggap aja kisah kita itu hanya mimpi... trus Kalo nuna kangen aku, dengerin aja lagu favorit aku..
Astaga! Baru nyadar aku, kalo udah nulis panjang banget gini. Haha. Ya udah, nuna jaga diri baik-baik ya, inget jangan tangisin aku lagi ya :) bye bye Nuna
by:
NAZ
Seketika senyuman manis merekah di bibirku diiringi butiran Kristal yang satu per satu jatuh. Kenapa yang terbaik itu rasanya sakit banget? Kenapa aku bodoh sekali? Kenapa aku tidak menyadari jika pemuda itu sedang menanggung beban yang begitu berat?
Ya Tuhan.. Aku menghapus tetesan air mataku dengan punggung tangan sambil memandang nanar surat pertama dan terakhir dari Naz. Dan surat ini, sebuah surat yang baru saja diberikan Irfan sahabat Naz...
"Inget, jangan tangisin aku lagi ya :) " mataku kembali menangkap sebaris tulisan itu yang membuatku segera menghapus air mataku. Aku tersenyum kecil. “Aku janji ini tangisan yang terakhir untuk kamu Naz,” ucapku pelan sesenggukan. Tiba-tiba aku melihat sesuatu yang tertinggal di dalam amplop. Ternyata satu lembar foto. Jantungku kembali berdebar cepat diiringi hatiku yang bergetar hebat.
Sebuah foto kami berdua. Tampak Naz tersenyum diiringi tawa kecil dari mulutnya. Dia terlihat keren di foto, sementara aku? Kelihatan bodoh! Dasar Naz! Aku melihat tanganku memegang dagu dan aku tersenyum tipis dengan latar kursi-kursi diruang kampus. Aku ingat, foto itu diambil ketika dikampus.. hehe
“Naz, Naz. Nggak mungkin Aku bisa gak memikirkanmu... entahlah” ucapku sambil menatap dalam foto dirinya.
“Aku pasti bakalan kangen kamu, Naz,” bisikku masih memandangi fotonya. Sesaat kemudian aku menengadah melihat langit gelap yang dihiasi taburan bintang. Indah juga cantik. Ketika melihat ke atas, hatiku langsung menciptakan imajinasi tersendiri tentang sosok wajah tampan itu. Kini, aku melihatnya dengan jelas. Kedua mata sipit yang dinaungi alis tebal diikuti dengan hidung mancung itu menatapku sambil tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi putihnya yang cukup rapi. Naz. Lagi-lagi aku tersenyum sambil bergumam. “................................” #secret
END
P.s : Cuman menghibur diri sendiri kok yaa!! 😉
-R-
Ini yang di fb itu ya.. :-)
BalasHapusiya...
Hapusbiar dikumpulin semua cerita tentang dia... suatu saat nanti 5 atau 10 tahun kemudian bakalan bisa bikin senyum2 jika di baca kembali... :)
kombur tu artinyah apa
BalasHapusartinya Cerita2/ngerumpi, itu bahasa daerah orang rantauprapat-medan..
Hapusmakasi Gustya sudah baca... hah saya harus memperbaiki istilah2 lagi ya... hehe
Wah, cerita tentang "sepotong kenangan" yang menarik untuk dibaca. You are a good story teller :-)
BalasHapusSelalu ada alasan di balik perilaku seseorang, dan itu semua terangkum dalam kisah di atas. "Kenapa yang terbaik itu rasanya sakit banget?" --> pertanyaan untuk dijadikan perenungan hehe.
makasih bayu sudah menyempatkan membaca cerpen saya...
Hapus